Senin, 10 Desember 2012

Sebuah Doa

Aku kutip sajak dari Sastrawan terbaik menurutku, Sapardi Djoko. Siapalagi jika bukan kamu yang menyebabkan kutipan ini sampai di blog ku sendiri?
Oh iya, untuk kamu yang-selalu-tanpa-nama berjanjilah jika kamu membaca postingan ku yang ini, tidak usah tersenyum dengan menampakki gigi rapi mu yang sebulan lalu baru saja kamu rapikan di sebuah rumah sakit di kota kembang itu.
Namun kamu tidak perlu terlalu percaya diri, sajak ini memang untukmu.
Untuk kamu, aku selalu mendoakanmu.

Dalam Doaku - Sapardi Djoko Darmono

Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman tak memejamkan mata,
yang meluas bening siap menerima cahaya pertama,
yang melengkung hening karena akan menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa,
yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana

Dalam doaku sore ini,
kau menjelma seekor burung gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu,
yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin
yang turun sangat perlahan dari nun di sana,
bersijingkat di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi
dan bibirnya di rambut, dahi dan bulu-bulu mataku

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya,
yang setia mengusut rahasia demi rahasia,
yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku

Aku mencintaimu,
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu



Melanjutkan Hidup


How can I move on when I'm still in love with you?

Lagu ini, iya lagu ini selalu aku dengarkan. Aku memang sudah bersama dengan yang lain, tapi bagaimana jika aku ingin melanjutkan hidup dan kamu tiba-tiba datang. Bukan maksudku datang menghampiriku secara nyata, tapi kamu selalu mimpi yang aku pesan saat aku tertidur dimalam hari.

Ternyata aku memang selalu butuh, iya aku selalu butuh kamu.

Kalau saja waktu itu ke-egoisan kita sama-sama bisa di pendam, iya 7 bulan yang lalu. Sudah 7 bulan aku masih tetap stuck di kamu. Dan kamu? Sudah dua kali bukan bersama dengan orang lain? Apakah menurut kamu semudah itu melupakan semua rancangan indah itu?

Cukup satu kata, oh.
Aku merasa jadi orang yang terlampau jahat untuk (berusaha) mencintainya namun di sudut hati masih ada nama kamu. Iya, nama kamu. Bukan nama dia.

Mudah saja bagimu, mudah saja untukmu. Coba saja, lukamu seperti lukaku.

Minggu, 09 Desember 2012

Hanya Saja...


Jadi, ku ajak hati dan fikiranku untuk berfikir sedikit lebih jernih. Berfikir tentang sesuatu yang harusnya aku tau ini salah, aku tahu tak seharusnya memaksa diri. Meskipun dengan ego ku yang sangat tinggi, aku memaksa diri untuk melanjutkan hidupku, ya, move on.

Hanya saja, ketika aku tiap kali mencoba untuk terbiasa dengan situasi baru lalu aku menemukan sosok yang lain di hidupku, kamu selalu datang. Layaknya anak kecil cengengesan berkata, "Tunggu aku sejenak, aku akan datang, kembali. Menata hatimu yang rapuh. Aku berjanji."

Bagaimana aku bisa melanjutkan hidupku jika kamu selalu datang? Selalu datang dengan penuh harap? Bukankah cinta itu tentang harapan? Selalu beri harapan yang kini aku tahu, meskipun kamu dan aku sudah bersama yang lain, selalu ada harapan untuk kembali. Tidakkah kamu fikirkan itu?

Hanya saja, dia berbeda. Bukankah setiap orang memang berbeda? Ya. Maafkan aku terpaksa melanjutkan hidup dan kini aku mulai mengerti dengan kata "dia" yang dulu, bahkan hingga kini pun, disudut hati aku pun masih terbesit nama "kamu". Bukan aku tidak setia menunggumu, maafkan.

Jika kamu bertanya, masihkah? Aku selalu menjawab, tentu. Did, Do, and Will.

Hanya saja, ketika aku bersama nya, aku tidak menemukan bagaimana how precious, how struggle we are, ah maaf, maksudku, how struggle we were.
Hanya saja, ketika aku mencoba mencintainya, aku tidak bisa memaksa hati.
Dan hanya saja, bagian terburuk dari beberapa waktu yang ada ini adalah, aku merindukanmu. Tidak tahu kah kamu ?

untuk kamu yang-akan-selalu-tanpa-nama.
Oh ya, aku masih ingat janji kita untuk foto di Studio, 
tempo lalu itu.

Pertama

Hai.
Untuk beberapa hari kedepan dan akan ku usahakan agar terus berlanjut agar diari online ini akan terus terisi. Dengan apapun dan dengan siapapun yang akan kuceritakan, coba dengar dan lihat.

Tidak penting siapa aku sebenarnya, tapi akan ku beri sebuah clue siapa aku sebenarnya.
Semua ini tentang Bintang Utara dan satu masakan terindah yang pernah masuk ke mulutku, Red Velvet. 
You got it? Ha. Jangan dipaksa ;) lihat apa saja yang kutulis disini.

D'accord, semua yang ku tulis disini adalah tentang, aku.
Best regards,

R.